0
Dikirim pada 30 Januari 2015 di Uncategories

 

Risiko yang sering dihadapi dalam bisnis jasa pengiriman barang biasanya terkait dengan kondisi barang yang dititipkan konsumen untuk dikirimkan. Bisa saja barang rusak atau bahkan hilang bahkan saat pengiriman belum dilakukan. Dan akibatnya, sang penerima barang complain atas kerusakan barang yang diterimanya. Hal ini bisa dicegah dengan menjalankan prosedur baku saat melakukan pemeriksaan barang kiriman.

Seluruh perusahaan jasa pengiriman barang Indonesia mempunyai sebuah prosedur untuk selalu melakukan pengecekan barang yang diperoleh dari Sipper (konsumen yang menitipkan barangnya untuk dikirim) sebelum menerima barang tersebut untuk dikirimkan ke alamat tujuan. Hal ini dilakukan untuk menghindari risiko klaim permintaan ganti rugi yang diajukan penerima barang terhadap perusahaan jasa pengiriman barang, apabila terjadi kerusakan barang yang telah dibungkus oleh Sipper.

Karena itulah, perusahaan jasa pengiriman yang menerima barang titipan tersebut menetapkan hal-hal terkait masalah pengiriman barang sebagai berikut :

  1. Perusahaan jasa pengiriman barang berhak, namun tidak berkewajiban untuk memeriksa barang atau dokumen yang dikirimkan oleh Sipper sebagai upaya untuk memastikan bahwa barang telah layak untuk diangkut dan dikirimkan ke alamat tujuan, sesuai dengan syarat prosedur operasional baku, proses bea dan cukai serta metode penanganan kiriman.
  2. Perusahaan jasa pengiriman barang dalam menjalankan haknya, tidak menjamin atau menyatakan bahwa seluruh barnag kiriman adalah layak untuk dilakukan pengangkutan dan pengantaran tanpa melanggar hukum, baik di kota asal, kota tujuan, atau yang dilalui oleh proses kiriman tersebut.
  3. Perusahaan jasa pengiriman barang tidak bertanggung jawab terhadap isi barang kiriman yang tidak sesuai dengan keterangan yang telah diberikan oleh Sipper kepada perusahaan.

Prosedur pemeriksaan tersebut berlaku untuk seluruh perusahaan jasa pengiriman barang. Selain untuk menjamin berlangsungnya proses pengiriman barang, juga untuk menghindari risiko klaim atas kerusakan barang yang diakibatkan oleh kelalaian konsumen itu sendiri. Prosedur ini juga menjadi filter, agar barang yang dikirimkan bukanlah barang-barang terlarang atau berbahaya yang justru akan memberi masalah bagi perusahaan jasa pengiriman barang.



Dikirim pada 30 Januari 2015 di Uncategories
comments powered by Disqus
Profile

“ Haji/Hajjah Irwan ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

Page
Categories
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 40.542 kali


connect with ABATASA